Beras Organik Desa Ringgit, Ngombol, Purworejo

Beras “Bogowonto”, Produk Desa Ringgit

Secara umum para petani padi di negeri ini belumlah sejahtera dalam kehidupannya. Tapi setidaknya di Desa Ringgit Kecamatan Ngombol, berkat tanam padi organik sistem SRI, perekonomian para petani berhasil dibangkitkan. Beras organik berlabel “Bogowonto”, adalah kreasi membanggakan sekaligus jembatan kemakmuran bagi para petani wilayah Purworejo Selatan.

*****
DESA Ringgit termasuk desa yang agak terpencil di Kec. Ngombol. Tapi siapa menduga bahwa desa ini ternyata cikal-bakal pengembangan beras organik yang menjadi produk unggulan Kabupaten Purworejo. Berkat keberdayaan masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani di Desa Ringgit, kini mereka bisa bernapas lega karena sudah menikmati hasil berlebih bila dibandingkan ketika dulu masih menanam padi non-organik.


Beras “Bogowonto” beras organik produk Desa Ringgit dan sekitarnya. (Foto; PH

Bicara beras organik dari Ringgit, tak bisa lepas dari peran Slamet Supriyadi (47 th), tokoh Pembina Kelompok Pemuda Tani “Lestari” yang telah berhasil dirintisnya. Diakuinya, bertolak dari rasa keprihatinan dan kepedulian terhadap nasib petani, mendorong komunitas masyarakat Desa Ringgit melakukan terobosan.

Tahap awal Slamet Supriyadi mencoba menanamkan dasar pola pikir bahwa: Pertama, petani supaya lebih mengenal lahannya sendiri. Kedua, petani agar menjadi ahli di lahannya sendiri. Ketiga, petani bebas menentukan kreasi (membikin pupuk dan bibit sendiri ). Ke empat, petani dapat menentukan sendiri harga sesuai margin yang layak dengan membentuk jaringan pemasaran yang baik.

Kreasi dua kakak beradik
Berbekal pengalaman mengikuti pelatihan Pembelajaran Ekolologi Tanah (PET), pada tahun 1997 silam penanaman perdana padi organik dimulai dengan dibantu sejumlah anggota LSM. Sistem organik menjadi pilihan karena produk beras organik mulai naik daun, yang sebagian besar dikomsumsi oleh masyarakat golongan ekonomi menengah ke atas, yang umumnya berdomisili di perkotaan. Di samping itu, faktor pelestarian tanah menjadi pertimbangan utama karena struktur tanah tidak lagi kecanduan pupuk non-organik.


Kantor sekretariat pengelolaan padi organik sistem SRI di Desa Ringgit. (Foto: PH)

Program awal dilakukan oleh Slamet Supriyadi dan adik sendiri, Wuryanto S.E. Dengan teknik pengelolaan yang lebih spesifik, dilakukan dengan lebih seksama dan cermat, maklum ini produksi pertama. Perbedaan yang nampak adalah penggunaan pupuk yang semula memakai pupuk non-organik, kini dengan memanfaatkan kompos jerami dan kotoran ternak menjadi menu utamanya. Saat panen tiba hasilnya ternyata secara kwantitas merosot cukup tajam bila dibandingkan dengan penggunaan pupuk non-organik. Sebagai tolok ukur, waktu itu untuk luasan sawah 1200 m2 dengan pupuk non-organik dapat menghasilkan gabah 1 kwintal, sedangkan dengan pupuk organik hanya menghasilkan sekitar 0,8 kwintal saja.

Namun satu hal yang menjadikan Slamet Supriyadi tetap bersemangat adalah, ternyata harga jual beras organik masih lebih tinggi sekitar 30% bila dibandingkan beras biasa, sehingga secara total margin yang diperoleh masih lebih tinggi sekitar 10%. “Faktor pemulihan struktur tanah yang belum stabil, kemungkinan menjadi salah satu penyebab belum maksimalnya hasil produksi,” kata Slamet Supriyadi

Seiring berjalannya waktu serta inovasi yang terus dilakukan tanpa henti, ternyata membuahkan hasil. Fakta membuktikan bahwa bertanam padi organik lebih menjanjikan, sehingga semakin bertambah saja anggota kelompok tani. Sampai tahun 2000 telah tercatat sebelas orang. Bahkan di desa lain, penanaman padi sistem organik juga dilakukan Kelompok Tani Margodadi pimpinan Suheni.

Beralih ke sistim SRI 
Tahun 2001 adalah masa suram bagi petani. Harga gabah yang anjlok sangat drastis, berdampak pula terhadap kelompok tani di Desa Ringgit. Sebagian besar dari mereka kemudian keluar dari keanggotaan sementara yang masih bertahan tetap mencoba bersabar menyikapi kondisi yang ada. “Untung saja saya tahun 2003 berkenalan dengan Pak Alik Sutaryat seorang ahli dari Kementerian Pertanian Pusat di Jakarta,” kenang Slamet Supriyadi lagi.
Diapun berkisah, waktu itu Pak Alik Sutaryat sedang mengembangkan SRI (System of Rice Intensification) di daerah Ciamis Jawa Barat (AOSC). Berkat petunjuk beliau, metode SRI organik mulai diujicobakan oleh kelompok tani Desa Ringgit. Sekilas Slamet Supriyadi menuturkan, proses pelaksanaan SRI organik lebih mengandalkan segi intensifikasi. Lahan dibentuk menjadi beberapa alur parit kecil, hal ini untuk mengendalikan level muka air dengan maksud agar kandungan pupuk dapat terserap secara optimal.


Saya dan Pak Slamet Supriyadi (tanda X) pelopor beras organik di Ringgit. (Foto: PH)

Untuk penanaman bibit yang berasal dari satu bulir gabah yang telah disemaikan, umur bibit tidak boleh lebih dari sepuluh hari, berdaun 2 lembar dengan tinggi rata-rata 7 cm, jarak tanam diatur setiap 30 cm. Yang agak unik adalah, cara menanam (tandur) yang umumnya dengan berjalan mundur, tetapi dengan sistem tandur ini justru berjalan maju. Setelah melakukan beberapa kali uji coba, maka hasilnya cukup menggembirakan. Maka masa keterpurukan petani padi organik tak berlangsung lama. “Dulu satu hektare hanya menghasilkan 10 kwintal gabah, kini dengan sistem SRI hasilnya bisa mencapai 16 kwintal,” kata Slamet Supriyadi bangga.

Beras Bogowonto
Hingga tahun 2011 ini, jumlah kelompok tani di Desa Ringgit mencapai 19 anggota dengan lahan seluas 10 hektar. Bahkan di beberapa tetangga desa di kecamatan Ngombol sudah mengikuti jejaknya dengan pengelolaan oleh kelompok masing-masing, 10 desa di kecamatan Ngombol kini sudah tergabung dalam kelompok jaringan Produksi PETANI SRI ORGANIK KABUPATEN PURWOREJO, berlabel BOGOWONTO. Varietas yang dihasilkan antara lain : Menthik Wangi, Pandan Wangi, Sintanur, Ngaos, Saodah, C4 dan juga padi merah.

Jaringan pemasaran sudah terbentuk dalam sistem, sehingga petani cukup menjual kepada jaringan kelompok dengan harga yang disepakati bersama. Hasil hitungan saat ini, menurut Slamet Supriyadi margin yang diperoleh berkisar 40 % – 50% dari biaya/ modal yang dikeluarkan. Selanjutnya kelompok jaringan ini menjual kepada konsumen ataupun perwakilan jaringan dengan harga yang kompetitif. Selama ini sudah tersebar jaringan pemasaran, antara lain ke kota Purworejo, Wonosobo, Purwokerto, Jakarta, Bekasi, Tangerang, Ciledug dan daerah lain. Distribusi selama ini berjalan cukup lancar.

Slamet Supriyadi mengakui, saat-saat awal merintis program tanam padi organik di tahun 1997 tidaklah mudah, khususnya dalam mengajak para petani untuk ikut bergabung dalam kelompok. Semuanya dilakukan Slamet Supriyadi dengan penuh ketelatenan, khususnya bagi para Pembina selaku motivator. Mereka seakan berjuang sendirian karena pihak pemerintah belum turut membantu dalam pengembangan program ini.

Prestasi membanggakan
Itu masa-masa awal perintisan yang pada akhirnya di tahun 2010 setelah pemerintah mencanangkan Go Organik, barulah usaha ini mulai mendapat dukungan. Sejak bergabungnya kelompok tani dalam jaringan petani SRI organik Kabupaten Purworejo di tahun 2003, sejak itu pula mereka gencar mengikuti pembelajaran dan praktek pertanian SRI organik.

Pada 12 – 16 Oktober 2003 pembelajaran dan praktek pertanian SRI organik. berlangsung di Desa Ringgit dengan mengundang nara sumber Bapak Alik Sutaryat. Pada Nopember 2007 selama sepuluh hari 10 orang perwakilan petani meningkatkan pemahaman dan praktek di ToT PET SRI organik di Lakbok Ciamis Jawa Barat dan masih dipandu oleh Bapak Alik Sutaryat. Pada tanggal 12-14 Agustus 2008 pembelajaran berlangsung di Desa Mendiro dan masih mendatangkan nara sumber Bapak Alik Sutaryat.

Pada tanggal 20 – 21 Oktober tahun 2008 empat orang petani diundang oleh Kementrian Pertanian Pusat di Jakarta untuk mempresentasikan karya mereka dalam Workshop Nasional SRI, bahkan petani ini dapat bertemu langsung dengan Ir. Suhartanto Direktur PLA Kementerian Pertanian Pusat. Beliau sangat mendukung dan terbukti sengaja hadir dalam Lokakarya Petani Pelaku dan Pengembang SRI organik yang diselenggarakan di desa Mendiro dan Ringgit pada tanggal 26 – 27 Januari 2009.

Dengan keberhasilan yang sudah dicapai, kelompok ini memperoleh penghargaan serta hadiah dari pemerintah yaitu: 1. Tahun 2008 mendapat bantuan satu unit mesin pengolah sampah organik. 2. Tahun 2010 mendapat bantuan satu unit mesin Traktor. 3. Tahun 2010 mendapat bantuan proyek 2 paket dengan nilai Rp 618 juta. Dengan rincian Rp 8 juta untuk tanah, Rp 8 juta untuk tanaman, Rp 30 juta untuk rumah kompos, Rp 30 juta untuk kendaraan motor roda tiga sebanyak 2 (dua) unit, Rp 190 juta untuk sapi yang berjumlah 60 ekor, dan Rp 352 juta rupiah peningkatan infrastruktur pengairan.

Kegigihan dan keuletan Slamet Supriyadi dan kawan-kawan petani dari Desa Ringgit ini patutlah mendapat acungan jempol. Karena bermula dari Desa Ringgit inilah kemudian berkembang jaringan petani SRI Organik Kabupaten Purworejo yang hingga kini sudah tersebar di 16 kecamatan. Penulis berharap semoga kelompok tani ini tetap solid dan harus semakin solid agar tidak tergilas oleh dahsyatnya globalisasi.

Di Desa Ringgit penulis menyempatkan membeli lima kantong beras Bogowonto kemasan 5 kg sebagai oleh-oleh. Sesampainya di Bekasi tiga kantong kuhadiahkan untuk tiga teman tetanggaku sambil berpromosi mengenai hasil dari daerah asal yang sangat membanggakan. Penulis berharap semoga Beras Bogowonto kelak akan menjadi komoditas unggulan dari Kabupaten Purworejo setelah gula jawa, durian dan manggis. (Hasmadji)

http://bloggerpurworejo.com

Rental Mobil Purworejo

Kami siap jemput & antar ke tujuan Anda. Hubungi kami sekarang juga! Telp 08111800809

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


two × = 10

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>