Industri Kerajinan Bola Sepak Desa Kaliboto, Bener, Purworejo

Industri kerajinan bola sepak di desa Kaliboto, Bener, Purworejo sudah dimulai sejak dekade 90-an oleh sebagian besar warganya.

Bola sepak kaliboto, bener, purworejo

Hasil produksinya ditampung pengepul, lalu dijual, baik di pasar nasional maupun internasional. Tetapi kemudian usaha itu bangkrut, tepatnya beberapa saat sejak dirangkul Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU) milik Pemkab. Awal kebangkrutan usaha antara lain karena kurang memperhatikan kualitas produksi.

”Sejak awal saya sudah bilang, kualitas produksi harus selalu dijaga. Gara-gara mutunya turun, akhirnya usaha itu bangkrut,” tutur salah satu perajin bola Kaliboto, Timbul Susilo.

Warga setempat yang semula menekuni usaha itu akhirnya menganggur sejak dua tahun lalu.

Namun, dua bulan terakhir, pembuatan bola secara tradisional itu bangkit lagi, berkat dukungan seorang pengusaha asal Purwokerto. Pengusaha itu bernama H Azis. Ia menyediakan seluruh bahan baku, sementara warga Kaliboto dan sekitarnya menyiapkan tenaganya.

Agar usahanya terorganisir dengan baik, kini dibentuk organisasi bernama ”Perajin Bola Remaja Mandiri Kaliboto” yang diketuai Timbul Susilo. Untuk mencukupi pesanan bola sepak dan bola voli dari pemodal, disiapkan 60 perajin dari warga Kaliboto, Karangsari, Kedungpucang, dan Pendemrejo, seluruhnya wilayah Kecamatan Bener.

Cara kerja mereka, 11-15 tenaga inti menggarap di bengkel produksi, sementara yang lain mengerjakan di rumah masing-masing.

Rumah milik Masruri, warga setempat, yang semula dikontrak PDAU, dimanfaatkan untuk tempat usaha. Mereka juga memproduksi sisa-sisa bahan baku milik PDAU. ”Rencananya, sisa bahan baku yang kami buat akan kami hitung jumlahnya, dan kalau sudah laku, akan kami bayarkan ke Pemda,” jelas Timbul.

180 Bola/Hari

Berkat pengalaman yang sudah dimiliki para pekerja, mereka bisa memproduksi 180 bola/hari. Menurut Timbul, berapa pun jumlah pesanannya, mereka siap memproduksi.

Berdasarkan perjanjian kerja dengan pemodal, mereka juga berhak menjual sendiri bola hasil produksi mereka.

Timbul lebih lanjut menjelaskan, bola sepak dan bola voli yang diproduksi terdiri atas berbagai ukuran, dari bola untuk anak-anak, hingga bola berukuran standar internasional. Harganya juga bervariasi, dari Rp 35 ribu/bola sampai Rp 150 ribu/bola, tergantung ukuran dan bahan bakunya.

Sejak usaha itu bangkit lagi, setidaknya sudah 2.500 bola diproduksi.

Upah pekerja dibayar dengan sistem borongan, yakni Rp 3.500/bola. Setiap orang mampu membuat tiga bola/hari.

Ketika di bawah binaan PDAU, bola produksinya diberi merk Superstar, dan kini digunakan merk Success.

Apa komentar para pekerja di perusahaan tersebut?

Kepala borong, Wakidah (40), warga Karangsari, mengaku senang usaha pembuatan bola hidup lagi. ”Lumayan, kangge tambah penghasilan Pak,” katanya.

Di balik usaha itu, ternyata cukup banyak pelajar yang ikut bekerja, seperti dilakukan Anggi Fitri Mayanti (18). Murid kelas III SMA Negeri 5 Purworejo itu sepulang sekolah biasa ke pabrik bola di Kaliboto. Hal yang sama juga dilakukan Siti Sholehah, murid kelas II SMA Negeri 5. ”Bisa untuk biaya sekolah Pak,” tutur dua anak itu, polos.

Ketua DPRD, Angko Setyarso Widodo, Senin siang lalu menyempatkan datang ke pabrik bola di Kaliboto. Ia menginginkan perusahaan yang ditangani secara perorangan itu berkembang dengan baik. Dia berharap pengalaman dulu tidak terulang lagi sewaktu di bawah naungan PDAU. ”Pemda kalau mau menyumbang, ya menyumbanglah. Dulu dijadikan Perusda, kok malah bangkrut,” tuturnya. (Eko Priyono-24)

Rental Mobil Purworejo

Kami siap jemput & antar ke tujuan Anda. Hubungi kami sekarang juga! Telp 08111800809

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


two × 8 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>